Faktor Negara Berkembang Tertinggal Jauh Masalah Pendidikan

Faktor Negara Berkembang Tertinggal Jauh Masalah Pendidikan – Sistem pendidikan merupakan bagian terpenting untuk peradaban dan kemajuan suatu bangsa. Melalui sistem pendidikan yang berkualitas akan dihasilkan sumber daya manusia yang berkualitas juga, dan pada akhirnya akan mengangkat harkat martabat bangsa.

Setiap negara memiliki sistem pendidikan masing-masing dengan ciri khas dan keunggulannya. Segala upaya akan dilakukan setiap negara untuk menghadirkan sistem pendidikan terbaik di Negaranya. Namun demikian, ada 3 kelemahan sistem pendidikan yang masih sering terjadi dan berlangsung secara terus menerus, terutama di Negara-Negara berkembang. Negara berkembang adalah negara dengan rata-rata pendapatan yang rendah, infrastruktur yang relatif terbelakang, dan indeks perkembangan manusia yang kurang dibandingkan dengan norma global. Istilah ini mulai menyingkirkan Dunia Ketiga, sebuah istilah yang digunakan pada masa Perang Dingin.

Faktor Negara Berkembang Tertinggal Jauh Masalah Pendidikan

Perkembangan mencakup perkembangan sebuah infrastruktur modern (baik secara fisik maupun institusional) dan sebuah pergerakan dari sektor bernilai tambah rendah seperti agrikultur dan pengambilan sumber daya alam.

Negara maju biasanya memiliki sistem ekonomi berdasarkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan menahan-sendiri. .  Dalam sebuah artikel berjudul “Effects of Education in Developing Countries” , Yasser Aleed terdapat 3 kelemahan sistem pendidikan pada Negara berkembang.

Pada artikel ini, ketiga kelemahan tersebut akan dibahas dan coba dikatikan dalam konteks sistem pendidikan di Indonesia.

Kelemahan Pertama, Penggunaan Model Pembelajaran yang Bersifat Konvensional

Dunia dengan segala perkembangan peradabannya begitu cepat mengalami perubahan, namun sayangnya penggunaan model pembelajaran di Kelas tidak dengan cepat mengikuti perubahan dunia yang begitu cepat tersebut.

Model pembelajaran memang mengalami perubahan dan terus bermunculan model-model kekinian, namun pertanyaannya apakah model pembelajaran kekinian tersebut sudah teraplikasi dalam pembelajaran di Kelas?

Diakui atau tidak, model pembelajaran yang masih sering digunakan di kelas merupakan model konvensional yang sudah banyak ditinggalkan oleh Negara-Negara maju.

Model konvensional tersebut merupakan model pembelajaran yang hanya menekankan siswa untuk menghafal dalam setiap pembelajarannya. Model ini dapat dilihat dari keseharian pembelajaran di kelas, pembelajaran di kelas masih didominasi oleh pembelajaran satu arah yang hanya sekedar transfer pengetahuan dari guru kepada siswa.

Model konvensional tersebut dijadikan model utama untuk menghantarkan siswa memperoleh nilai tinggi dalam setiap jenjang pendidikannya. Namun sayangnya, terkadang nilai yang sudah diperoleh tersebut tidak bisa mencerminkan capaian pengetahuan yang dimiliki oleh siswa.

Akibat dari masih sering digunakannya model konvensional tersebut, maka akan menyebabkan siswa tidak memahami pengetahuan secara bermakna. Ketika pengetahuan yang dipeoleh siswa tidak bermakna, maka siswa tersebut tidak akan bisa menghubungkan pengetahuan yang sudah diperolehnya dengan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Model konvensional tersebut sudah seharusnya dikurangi porsi pelaksanaanya di dalam kelas, atau bahkan dihilangkan dan diganti dengan model-model yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman.

Jika model pembelajaran konvensional mengarahkan siswa agar mampu menjawab soal-soal ketika ujian. Maka model pembelajaran saat ini, harus mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan segala potensi dan keterampilan untuk bekal di kehidupan yang lebih nyata.

Sehingga bukan hanya soal ujian saja yang bisa diselesaikan, tetapi persoalan kehidupan nyata pun bisa diselesaikan dengan ilmu yang sudah dipelajari di dalam kelas.

Jika model pembelajaran konvensioal menyiapkan siswa untuk menjadi pekerja, maka model pembelajaran saat ini harus mampu menyiapkan siswa membuka lapangan kerja sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.

Kelemahan kedua, Rendahnya Penggunaan Teknologi sebagai Penunjang Pembelajaran

Rendahnya penggunaan teknologi sebagai bagian dari penunjang pembelajaran secara khusus, dan umumnya dalam pendidikan masih menjadi permasalahan yang berkelanjutan di Negara berkembang.

Menurut Yasser Aleed teknologi masih menjadi hal yang tidak lazim digunakan dalam pembelajaran di Negara berkembang. Hal tersebut dikarenakan keterabatasan sumber daya manusia yang melek teknologi dan permasalahan pembiayaan.

Jika dikaitkan dengan konteks pendidikan di Indonesia, penggunaan teknologi dalam pembelajaran memang semakin berkembang. Pemerintah pun mendorong pembelajaran yang dilakukan bisa memanfaatkan teknologi sehingga pembelajaran menjadi lebih inovatif dan variatif.

Faktor Negara Berkembang Tertinggal Jauh Masalah Pendidikan

Namun demikian, penggunaan teknologi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan secara maksimal dalam pembelajaran di kelas. Meskipun di sebagian Sekolah sudah tersedia peralatan teknologi penunjang pembelajaran, tapi masih saja pembelajarannya dilakukan secara konvensional.

Meskipun fitur-fitur/aplikasi penunjang pembelajaran sudah banyak dan semakin mudah didapatkan, namun masih sedikit yang memanfaatkannya untuk menunjang pembelajaran.

Jika kondisi tersebut terus terjadi,  tentu saja ini akan menjadi permasalahan untuk pendidikan di negara kita. Biar bagaimana pun teknologi ini harus menjadi bagian penunjang pembelajaran yang dimanfaatkan secara maksimal dan tepat oleh semua pihak.

Keberadaan teknologi ini akan sangat membatu proses pembelajaran yang berlangsung di kelas. Sesuatu yang tidak bisa ditampilkan dan dibawa ke kelas, seperti keadaan molekular/partikel suatu proses reaksi kimia, kondisi ruang angkasa, sejarah masa lalu dan lainnya. Dengan pemanfaatan teknologi, semuanya bisa disajikan di dalam kelas untuk menghasilkan pembelajaran yang lebih bermakna.

Selain itu, pemanfaatan teknologi juga turut andil dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan, misalnya dengan mengadakan ujian tanpa kertas.

Sudah banyak fitur/aplikasi gratis yang bisa digunakan untuk membuat ujian berbasis aplikasi. Pemanfaatan aplikassi untuk ujian ini memudahkan dan mengefisienkan waktu guru dalam pengoreksian.

Namun demikian semuanya kembali lagi kepada sumber daya manusianya. Bagi sebagian orang, keberadaan aplikasi/fitur tersebut mungkin menjadikan pembelajaran mudah dan praktis. Tapi bagi sebagian yang lainnya, bisa saja menganggap aplikasi/fitur tersebut membuat ribet dan menyulitkan.

Permasalahan Ketiga, Ketimpangan Pendidikan

Permasalahan pendidikan lainnya yang masih terus terjadi dan berkelanjutan di negara-negara berkembang adalah akses dan kualitas pendidikan yang tidak merata. Ketimpangan ini terjadi karena beberapa faktor, diantaranya kondisi geografis dan kondisi sosial masyarakat.

Dalam konteks pendidikan di Indonesia, ketimpangan pendidikan masih terjadi terutama pada akses dan kualitas pendidikan. Ketimpangan pendidikan tidak hanya terjadi pada skala nasional, dalam satu provinsi atau kab/kota pun ketimpangan pendidikan antara satu daerah dengan daerah lainnya pun masih terjadi.

Ketimpangan kualitas pendidikan ini terjadi antara lain karena tidak meratanya sumber daya manusia dalam hal ini guru dan tenaga kependidikan. Masih banyak guru yang enggan ditempatkan atau bertugas di daerah-daerah terpencil.

Selain itu, akses dan keterjangkauan pendidikan di beberapa daerah yang masih sulit menyebabkan tidak meratanya persebaran logistik dan alat penunjang pembelajaran, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan tidak berjalan maksimal.

Pemerintah sendiri sudah berupaya untuk meminimalisir ketimpangan kualitas pendidikan dan berusaha membuat pemerataan kualitas pendidikan.

Upaya yang sudah dilakukan antara lain adanya kebijkan zonasi, pemberian tunjangan daerah khusus bagi guru yang mengajar di daerah terpencil dan pembangunan infrastruktur untuk memudahkan akses mendapatkan pendidikan.

Namun demikian, pemerataan kualitas pendidikan tersebut belum sepenuhnya bisa terwujud dalam waktu cepat. Semuanya perlu waktu dan usaha yang konsisten dari semua pihak.