Komunitas Indonesia Untuk Mewujud kan Pendidikan Lebih Baik

Komunitas Indonesia Untuk Mewujud Pendidikan Yang Lebih Baik – Pendidikan adalah jembatan anak bangsa meraih suatu kesuksesan. Pada kenyataannya saat ini terjadi ketimpangan yang sangat mencolok antara pendidikan di pelosok dan di perkotaan. Menurut kakak apa yang menjadi penyebab utama hal itu terjadi dan apa solusi yang kakak bisa berikan dalam menangani hal tersebut?

“Hanya anak bangsa sendirilah yang dapat diandalkan untuk membangun Indonesia, tidak mungkin kita mengharapkan bangsa lain!” B. J. Habibie (Presiden Ke-3 Indonesia) Salah satu indikator kemajuan suatu bangsa dapat ditinjau dari pendidikannya. Kutipan B. J. Habibie ini merupakan sebuah tamparan bagi kondisi pendidikan Indonesia yang saat ini masih jauh dari kata layak.

Figur aset pendidikan Indonesia saat ini yang tidak merata menjadi tolak ukur rendahnya kualitas bangsa, baik dalam kacamata lokal maupun dalam kacamata Internasional. Sebagaimana yang kita resahkan, permasalahan ketidakmerataan pendidikan merupakan permasalahan yang klasik dan berkesinambungan.

Komunitas Indonesia Untuk Mewujud kan Pendidikan  Lebih Baik

Pendidikan yang tidak merata merupakan salah satu keresahan sebagian besar masyarakat yang hingga saat ini masih belum menemukan titik terang. Ketidakmerataan pendidikan tersebut menitikberatkan pada dua aspek utama, yaitu: aspek kuantitas dan aspek kualitas. Pasal 31 ayat (1) 1945 yang menyatakan bahwa “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan” masih belum terealisasi dengan baik. Sebab, masih terdapat golongan masyarakat yang belum memperoleh haknya dalam mengenyam pendidikan. Aspek yang kedua adalah aspek kualitas.

Kualitas pendidikan Indonesia masih belum merata. Akses pendidikan di pelosok-pelosok desa yang notabenenya jauh dari kota besar masih belum mendapatkan sarana dan prasarana yang memadai sebagaimana di kota-kota besar. Sarana dan prasarana tersebut diantaranya: infrastuktur bangunan, akses menuju sekolah, serta tenaga pendidik. Apa yang menjadi faktor penyebab dan solusi dari permasalahan ini? Permasalahn ketidakmerataan pendidikan ini merupakan permasalahan yang saling berkesinambungan dengan permasalahan lainnya.

Permasalahan perekonomian dan pola pikir masyarakat merupakan salah satunya. Pola pikir orang tua yang lebih memprioritaskan anaknya untuk bekerja, berkebun, bertani dibandingkan untuk menyekolahkan anaknya merupakan pola pikir yang perlu diluruskan. Solusi dari permasalahan ini tentunya adalah mengadakan dan memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat setempat mengenai pentingnya pendidikan. Selain pada permasalahan ekonomi dan pola pikir masyarakat, faktor penyebab pendidikan yang tidak merata adalah etilitas.

Pemerintah hanya memfokuskan peningkatan kualitas pendidikan pada kaum elit di kota-kota besar dibandingkan dengan peningkatan kualitas pendidikan pada kaum bawah yang berada di pelosok. Peran pmerintah kurang maksimal dalam memeberikan fasilitas yang memadai, seperti: perbaikan bangunan sekolah, pengadaan buku-buku, perbaikan akses jalan menuju sekolah, serta pengadaan akses jaringan internet dan peralatan teknologi yang menunjang proses belajar-mengajar. Pemerintah juga sering mengubah kurikulum yang tentunya berdampak pada rekonstruksi fasilitas bahan ajar di sekolah pelosok. Solusi dari permasalahan ini yaitu perlunya pemerintah dalam memfokuskan peningkatan kualitas pendidikan di daerah pelosok sehingga tidak mendominasi di kota-kota besar serta mempertimbangkan perlakuan perubahan kurikulum.

Faktor penyebab ketiga adalah penyebaran tenaga pendidik yang tidak merata. Tenaga pendidik yang bertumpuk di kota-kota besar menjadikan daerah pelosok tidak mendapatkan kuantitas dan kualitas tenaga pengajar yang sebanding. Solusinya dari hal ini adalah tentunya adalah pemerataan penyebaran tenaga pendidik antara daerah pelosok dan kota-kota besar. Selain itu, solusi pribadi yang bisa saya tawarkan adalah melakukan penyuluhan kepada masyarakat setempat mengenai pentingnya pendidikan. Selanjutnya, memperadakan “Rumah Impian”. Keberadaan Rumah Impian ini diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar dan motivasi anak dalam bermimpi.

Pengajaran pada Rumah Impian bersifat Indoor dan Outdoor. Pada kegiatan Indoor, relawan melakukan pengajaran dengan menggunakan metode learning by doing membaca dan menulis, pengajaran akhlak dan moral, pengajaran pengenalan huruf hijaiyah, pemberian motivasi, melakukan permainan IQ, SQ, dan EQ, pengenalan teknologi, dan lainnya. Pada kegiatan outdoor, relawan mengajak anak “Rumah Impian” untuk menjelajah alam, bermain, dan berkreasi. Melalui solusi-solusi di atas tersebut, Indonesia tentunya membutuhkan sinergitas antara pemerintah, masyarakat, dan generasi muda. Ibaratnya, saat ini Indonesia sedang mengidap penyakit yang menyerang organ pendidikannya. Penyakit ini tentunya memerlukan penanganan dan pengobatan yang serius sebelum ia menyerang organ-organ lainnya yang akan melumpuhkan bangsa dan negara.

Pendidikan merupakan sarana utama pembentukan generasi penerus bangsa. Pendidikan yang semakin meningkat kualitasnya juga membuat negara semakin maju. Guna meningkatkan layanan pendidikan yang berkualitas, pemerintah juga membutuhkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Negara Indonesia tertinggal jauh negara lain karena sistem pendidikan yang kurang baik kualitasnya. Padahal pendidikan merupakan faktor utama dalam membangun karakter bangsa dan faktor untuk menggerakkan perekonomian suatu bangsa.

Berdasarkan data, perkembangan pendidikan Indonesia masih tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Menurut Education For All Global Monitoring Report 2011 yang dikeluarkan oleh UNESCO setiap tahun dan berisi hasil pemantauan pendidikan dunia, dari 127 negara, Education Development Index (EDI) Indonesia berada pada posisi ke-69. Indonesia kalah dibandingkan Malaysia (65) dan Brunei (34). Selain itu, akses pendidikan di Indonesia masih perlu mendapat perhatian, lebih dari 1,5 juta anak tiap tahun tidak dapat melanjutkan sekolah. Sementara dari sisi kualitas guru dan komitmen mengajar terdapat lebih dari 54 persen guru memiliki standar kualifikasi yang perlu ditingkatkan dan 13,19 persen bangunan sekolah dalam kondisi perlu diperbaiki. “Peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya dibutuhkan di kota-kota besar, tetapi juga di kota kecil dan tidak hanya di Jawa tetapi diluar Jawa. 

Apabila perbaikan kualitas pendidikan dapat dilakukan dengan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat, maka tidak hanya kuantitas yang besar melainkan kualitas kesejahteraan masyarakat pun lebih baik sehingga mendukung pembangunan ekonomi di Indonesia menjadi lebih baik dan terstruktur. Sebagai salah satu wujud dari kepedulian terhadap kualitas pendidikan di Indonesia, Putera Sampoerna Foundation mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bergabung dalam Gerakan Indonesia Berkibar. Gerakan ini merupakan sebuah gerakan nasional yang mengajak peran serta korporasi baik swasta maupun BUMN, media, dan komunitas untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam memperbaiki pendidikan di Indonesia, dimulai di daerah dimana institusi tersebut beroperasi sehingga kualitas pendidikan yang baik dapat merata di seluruh negeri.

Komunitas Indonesia Untuk Mewujud kan Pendidikan  Lebih Baik

Gerakan Indonesia Berkibar adalah sebuah wadah untuk kegiatan kerjasama yang mengusung kerjasama pemerintah-swasta atau lebih dikenal dengan Public Private Partnership yaitu bentuk kerjasama antara pihak pemerintah dengan pihak swasta untuk bersama-sama memperbaiki pendidikanserta untuk mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas dan memilki daya saing tinggi dan mampu menjawab tantangan global.

Dengan adanya kemitraan yang dibuat oleh Pemerintah dan swasta dalam Gerakan Indonesia Berkibar membuat sistem pendidikan dan dumber daya manusia di Indonesia menjadi semakin lebih baik. Mekanisme kerjasama dibangun dalam bentuk program pelatihan dan pendampingan untuk sekolah-sekolah yang didukung tenaga ahli, serta pendekatan berdasarkan hasil penelitian.